Berita Viral

Bahasa Gaul Wibu hingga Cogan Kini Masuk KBBI Resmi Jadi Bahasa!

18
×

Bahasa Gaul Wibu hingga Cogan Kini Masuk KBBI Resmi Jadi Bahasa!

Sebarkan artikel ini

Bahasa gaul merupakan salah satu fenomena yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah-istilah dari subkultur tertentu, seperti “wibu” dan “cogan,” telah menjadi cukup populer di kalangan anak muda di Indonesia. Menariknya, beberapa istilah ini kini telah resmi masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hal ini menandakan adanya perubahan dalam dinamika bahasa dan bagaimana bahasa dapat berkembang mengikuti perkembangan zaman, termasuk pengaruh dari media sosial dan budaya pop. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa istilah bahasa gaul yang telah menjadi bagian dari KBBI, mulai dari wibu hingga cogan. Berikut adalah daftar istilah yang dimaksud:

  • Wibu: Istilah ini berasal dari kata “weeaboo” yang menggambarkan seseorang yang sangat mengagumi budaya Jepang, termasuk anime, manga, dan kehidupan sehari-hari di Jepang. Dalam penggunaannya, “wibu” sering digunakan secara humoris untuk merujuk pada penggemar berat budaya pop Jepang.
  • Cogan: Singkatan dari “cowok ganteng,” istilah ini merujuk pada pria yang dianggap tampan atau menarik. Biasanya, cogan menjadi idola di kalangan remaja wanita dan sering kali diasosiasikan dengan gaya hidup yang glamor.
  • Gengges: Istilah ini digunakan untuk merujuk pada seseorang yang dianggap menyebalkan atau menjengkelkan. Biasanya, “gengges” digunakan untuk menggambarkan tindakan atau kebiasaan yang dianggap mengganggu oleh orang-orang di sekitarnya.
  • Goks: Kata ini adalah singkatan dari “gokil” yang berarti sesuatu yang sangat lucu atau menggelikan. “Goks” sering digunakan untuk menggambarkan situasi atau orang yang dapat membuat orang lain tertawa.
  • Galau: Istilah ini merujuk pada perasaan ketidakpastian atau kebingungan, terutama dalam konteks percintaan. Galau telah menjadi suatu bagian dari budaya pop Indonesia, di mana banyak orang mengungkapkan perasaan galau mereka melalui media sosial.
  • Jomblo: Kata ini berasal dari bahasa gaul yang berarti seseorang yang tidak memiliki pasangan. Istilah ini sering digunakan dengan nada humor, terutama di kalangan remaja yang sedang menjelaskan status hubungan mereka.
  • Ngab: Singkatan dari “ngabers,” kata ini digunakan oleh komunitas yang mengikuti akun media sosial, terutama di Instagram. “Ngab” sering digunakan untuk memanggil teman atau sobat dalam percakapan santai.
  • Santuy: Istilah yang berarti tenang atau rileks. “Santuy” biasanya digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak terburu-buru atau bersikap santai dalam menghadapi masalah.
  • Receh: Kata ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sepele atau tidak serius. Dalam konteks humor, “receh” merujuk pada lelucon yang sederhana namun menghibur.
  • Baper: Singkatan dari “bawa perasaan,” istilah ini menggambarkan kondisi emosional ketika seseorang terlalu sensitif terhadap situasi tertentu, terutama yang berkaitan dengan perasaan cinta atau hubungan.
  • FOMO: Singkatan dari “fear of missing out,” istilah ini merujuk pada kecemasan yang dialami seseorang ketika merasa tertinggal dari momen atau pengalaman yang diikuti orang lain, sering kali disebabkan oleh aktivitas yang dibagikan di media sosial.
  • Geng: Istilah ini merujuk pada sekelompok teman yang memiliki kesamaan, baik dalam hobi, aktivitas, maupun gaya hidup. “Geng” seringkali menjadi identitas bagi anak muda, di mana mereka memiliki perasaan kebersamaan yang kuat.

Bahasa gaul yang berkembang di kalangan anak muda telah menjadi bagian dari budaya populer yang tak terpisahkan. Ketika istilah-istilah seperti “wibu” dan “cogan” diakui secara resmi dalam KBBI, hal ini bukan hanya menunjukkan penerimaan bahasa gaul dalam bahasa baku, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat. Dengan munculnya istilah-istilah baru ini, kita dapat melihat dinamika hubungan antar generasi dan bagaimana komunikasi berkembang seiring waktu.

Melalui perkembangan bahasa ini, kita diajak untuk lebih menghargai kekayaan bahasa Indonesia yang terus beradaptasi dengan berbagai pengaruh, baik lokal maupun internasional. Dengan memasukkan istilah bahasa gaul ke dalam KBBI, kita tidak hanya merayakan bahasa yang hidup, tetapi juga menegaskan bahwa bahasa adalah cerminan budaya yang siempreetano puede cambar. Semoga dengan pengakuan ini, kita dapat semakin kreatif dan inovatif dalam menggunakan bahasa kita sehari-hari!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *